Wednesday, November 8, 2017

My Selfies and The So-Called 'Das Ding An Sich' (In My Super Oversimplified Viewpoint)

Hai, Dialers!

Sebenarnya sudah lama saya hendak menulis tentang hal ini, tapi pada faktanya baru terlaksana sekarang hehe. Di artikel kali ini, saya ingin menulis tentang sebuah konsep pemikiran filsuf yang menurut saya— sekali lagi, menurut saya lho ya— exceedingly outstanding. Kenapa? Pasalnya konsep ini dapat menjawab salah satu pertanyaan 'gak jelas' saya yang sudah lama ingin saya cari jawabannya. Namun begitu, saya tidak pernah mencoba menanyakan pertanyaan ini pada orang lain karena takut mendapat jawaban yang tak memuaskan. So, what's the question? Simpel kok: kenapa ya setiap kali hendak berfoto selfie dengan kamera depan, hasil penampakan diri saya di layar sebelum tombol shutter dipencet tidak sama dengan setelah tombol shutter dipencet? Jadi, bila sebelumnya wajah atau penampakan fisik saya nampak buruk/baik di layar (e.g., pipi nampak lebih tirus, tinggi badan nampak pendek), lalu pas sudah pencet tombol shutter, hasil foto yang keluar malah justru sebaliknya.

selfie doeloe yuk (source)
Wkwk, enggak, ini bukan masalah angle, efek filter, atau pencahayaan kamera. Ini juga bukan efek saya terjangkit virus narsisme atau krisis kepercayaan diri (apalagi efek gara-gara saya tidak memakai make-up). Problema seperti ini bisa terjadi bahkan ketika kita berfoto tanpa polesan riasan apapun. Dan menurut saya, ini adalah pertanyaan yang pasti pernah terselip di benak siapa saja, alias tidak terlimitasi pada benak para Kaum Hawa saja. Kendati begitu, pertanyaan seperti ini dianggap terlalu trivial dan tak membutuhkan jawaban berarti. Padahal kalau sudah tahu jawabannya, Ia dijamin akan sedikit banyak mempengaruhi pola pikir kita dalam menilai sesuatu, utamanya dalam hal menilai diri kita sendiri.

Ya, pada dasarnya pertanyaan tadi dapat terjawab melalui konsep pemikiran Immanuel Kant yang bertajuk 'Das Ding An Sich'. Diambil dari Bahasa Jerman, frasa tersebut kurang lebih memiliki makna 'benda-dalam-dirinya-sendiri'. Gampangnya begini: bahwa penampakan objek bukanlah objek. Bahwa kita hidup dalam dunia yang sudah dibumbui lapisan-lapisan konsepsi (phenomenal world). Bahwa apa yang kita lihat bukanlah selalu apa yang sebenarnya sejati. Penglihatan (penginderaan) kita terhadap sesuatu bergantung pada hasil proyeksi 'kacamata' yang kita pakai.

Immanuel Kant (source)
So, kembali lagi pada pertanyaan seputar selfie yang tak sesuai ekspektasi, maka menurut teori Kant tersebut jawabannya adalah: kita adalah makhluk yang melihat apa yang ingin kita lihat (in this light, pada diri kita). Jika dari sudut pandang kita, fisik kita nampaknya memiliki fitur A— maka bukan tidak mungkin  ketika diabadikan di kamera, fisik kita justru menampilkan fitur A layaknya fitur B. Namun benarkah bahwa pandangan kita mengenai diri kita sendiri itu selalu salah (karena dipengaruhi oleh persepsi dan subjektivitas)? Apakah hasil yang diabadikan dan diperlihatkan oleh kamera selalu merefleksikan kebenaran yang hakiki?

Well, menurut Kant, toh tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar. Selama kita masih melihat hasil foto itu dengan mata kepala kita sendiri, kita masih perlu mempertanyakan kebenaran penampakan objek tersebut.
We simply don't possess any knowledge of what might be seemed as the sensible truth in us, for we, to be perfectly honest, are unknowable.
Nah, sekarang bandingkan dengan gambaran yang lebih besar soal bagaimana kita memandang diri kita. Bukan sekedar dari segi fisik, tapi dari segi sifat hingga kepribadian. Kalau menurut diri kita sendiri mungkin kita adalah orang yang baik, maka belum tentu di mata orang kita berwujud sama. Namun lagi-lagi, orang tersebut juga belum tentu benar, karena Ia juga melihat kita lewat persepsi-persepsi yang Ia miliki (ya keles, kan masih sama-sama manusianya, masih sama-sama subjektif).

Ya terus bagaimana, dong?

Ya pokoknya jangan salahkan kamera depan ponsel kalian kalau hasil selfie kalian jelek. Sebaliknya juga, jangan memuja kamera kalian kalau hasil foto kalian ternyata lebih baik dari apa yang sebelumnya terlihat di layar. Terapkan pula hal ini pada orang-orang yang menilai kita di luar sana.

Serta jangan punya pikiran yang sempit seakan kalian memang benar-benar sudah mengenali diri kalian lebih dari siapapun. Habisnya, siapa yang benar-benar tahu kalau kita ini memang benar-benar bermata dua dan berhidung satu?
Share:

Friday, June 30, 2017

Salahkah Menjadi Seseorang yang Pesimis?

“Turning and turning in the widening gyre
The falcon cannot hear the falconer;
Things fall apart; the centre cannot hold;
Mere anarchy is loosed upon the world,
The blood-dimmed tide is loosed, and everywhere
The ceremony of innocence is drowned;
The best lack all conviction, while the worst
Are full of passionate intensity.” 

(The Second Coming, W.B. Yeats, The Collected Poems of W.B. Yeats)


Hai, Dialers!

Sebagai pembukaan, saya memang ingin memakai penggambaran topik yang bersifat dramatis (wkwk). Yap, The Second Coming adalah sajak Yeats yang menangkap kondisi miris masyarakat Irlandia pasca Perang Dunia I. Bagaimana tidak, baru saja selesai PD I, masyarakat Irlandia pun masih harus kembali merasakan pahitnya gejolak perang lewat Irish War of Indepedence. Pantas saja puisi karya Yeats ini begitu 'menyentuh' konsep pemikiran seseorang yang tanpa harapan. Thus, saya lantas meminjam karya pujangga putra Irlandia tersebut sebagai ilustrasi atas 'seperti apa sih rasanya menjadi seseorang yang pesimis'.


Menurut KBBI, seseorang yang pesimis memiliki definisi sebagai 'orang yang bersikap atau berpandangan tidak mempunyai harapan baik (khawatir kalah, rugi, celaka, dan sebagainya); orang yang mudah putus (tipis) harapan'. Sedangkan menurut Wikipedia, pesimisme adalah paham yang menganggap bahwa segala sesuatu yang ada pada dasarnya adalah buruk atau jahat. Bahkan, untuk filsuf sekelas Nietzsche, Ia membawa rasa pesimis-nya pada level yang jauh lebih tinggi dengan menciptakan pandangan filosofi nihilisme— yakni paham bahwa segala aspek di dunia ini pada dasarnya tak ada gunanya. Ibaratnya, hidup ini diciptakan dengan tujuan tidak lain dan tidak bukan hanya untuk mati.

Hm, pathetic juga ya? Mayoritas khalayak pun acap kali memberi label bahwa pesimisme adalah hal yang condong negatif. Padahal, saya memiliki pendapat yang cukup berbeda dari yang sudah tertulis di atas. Memang saya bukanlah Spongebob Squarepants yang setiap hari berangkat ke Krusty Krab dengan mood penuh sukacita. Sebaliknya, sehari-hari saya adalah Squidward— yang mana kerap melangkah keluar dengan gontai dan cenderung skeptis melihat kehidupan orang lain di sepanjang jalan.

Sekalipun begitu, pesimisme sudah saya anggap sebagai salah satu sahabat terbaik yang saya miliki. Yup, kurang lebih dia adalah sumber penyedia rasa nyaman dalam hidup saya. Iya sih, come to think of it, pesimisme memang sarat akan jurus membohongi perasaan. Akan tetapi, nilai moralitas 'membohongi' ini relatif untuk sebagian orang. Kalau dalam opini saya, sesuai dengan cara saya menyikapi pemikiran ini, tujuan 'membohongi' ini sebenarnya baik.

image source

Let's take a look at some positive intrapersonal effects gained from being a legit pessimist.
 Jadi pada dasarnya, pesimisme ini ada tiga macam kategori: Explanatory Pessimism, Strategic Pessimism dan Pessimistic Bias. Penganut Explanatory Pessimism percaya pada pemikiran bahwa hal buruk yang terjadi dalam hidup ada hubungannya dengan kesalahan mereka atau faktor eksternal yang tak dapat diubah. Intinya, bila tertimpa nasib buruk maka mereka seperti tidak punya harapan lagi untuk mengubahnya (saya jadi teringat pada paham fatalisme).

Selanjutnya ada Strategic Pessimism, yakni jenis pesimisme yang dipakai sebagai strategi penghilang anxiety. Caranya ialah dengan menurunkan level ekspektasi sembari menyusun rencana untuk mengatasi worst-scenario outcome(s). Baru lanjut ke jenis terakhir, terdapat yang namanya Pessimistic Bias. Ia agak mirip dengan Explanatory Pessimism namun lebih menekankan pada keyakinan bahwa no matter what you do, Dewi Fortuna tak akan pernah berpihak di sisimu.

image source
Nah, kalau saya sih jujur saja akrab dengan paham Strategic Pessimism. Pasalnya, saya memakai pesimisme jenis ini sebagai pil penenang untuk menghadapi rasa cemas menunggu sebuah hasil. Siapapun tak akan menyangkal kalau berharap tinggi-tinggi itu akan menyebabkan kejatuhan yang bukan kepalang sakitnya. Maka dari itu, baiknya saya tidak muluk-muluk dalam berekspektasi. Saya berusaha untuk mengaplikasikan sikap qana'ah alias mensyukuri hasil (mau seburuk apapun hasil yang didapat). Inilah yang agak bertolak belakang dengan para optimist, yang most likely tidak siap dengan hasil yang tak memuaskan. Tak heran pada tahun 2011, ada sebuah riset yang diikuti oleh 250 pasangan dan diterbitkan di the Journal of Personality and Social Psychology, yang mengatakan bahwa— orang yang terlalu optimis akan lebih kesulitan dalam memerangi stres.

Sejatinya, pesimisme semacam Strategic Pessimism-lah yang membuat kita menjadi lebih aware, lebih rasional dan tak hanyut dalam semunya angan kebahagiaan. Dengan begini dapat dikatakan bahwa kunci ketenangan batin bisa didapat dari pemilihan paham pesimisme yang tepat. Nah, I don't insist you to be a full-time pessimist. Cuma terkadang, pesimisme itu diperlukan demi keseimbangan mental seseorang yang lebih matang.

So, salahkah menjadi seseorang yang pesimis? Meh, I don't think so.

Referensi:
http://lifehacker.com/the-benefits-of-pessimism-1620150406  
Share:

Saturday, May 27, 2017

Memori dan Rindu (It's not a scientific article but rather a free writing product of mine)

Kali ini, saya sedang ingin mengutarakan betapa saya membenci (lagi) saat-saat ketika saya terlalu aktif memikirkan hal-hal yang tak seharusnya dipikir (atau setidaknya itu menurut pandangan sempit saya). Contohnya, saat saya tengah terjaga di malam hari tanpa ada kesibukan yang berarti, saya mempunyai tendensi untuk berpikir mengenai hal yang aneh-aneh. Pikiran-pikiran liar pun melayang-layang dengan naif-nya di udara— saya bahkan bisa berpikir tentang hal super random seperti alkisah ada seseorang yang bunuh diri dengan gantung diri di langit-langit rumahnya. Sebenarnya, Ia sempat hendak berubah pikiran namun tanpa sengaja, kursi yang menahannya tersenggol oleh kakinya sendiri karena Ia terlalu gemetar (oh man). 

Nah, ada satu lagi hal yang menurut saya adalah pemikiran yang tidak penting— yang kerap kali menyiksa— namun selalu datang di saat-saat yang kosong: rindu.

Menurut definisi KBBI, rindu merupakan sebuah kata adjektiva yang berarti 'sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu' atau juga 'memiliki keinginan kuat untuk bertemu'. Bagi kebanyakan orang, rindu pun dialamatkan sebagai salah satu bentuk perasaan cinta terdalam terhadap seseorang. Namun entah kenapa, bagi saya, apabila ditinjau secara logika, rindu toh hanyalah efek samping dari kepalsuan memori. 

Well, ada sebuah kutipan dari mendiang Albert Einstein yang berbunyi
"Memory is deceptive because it is colored by today's events". Yap, kutipan di atas bagaikan sebuah wake-up call bagi saya yang kebetulan tidak mempunyai kelebihan bertajuk 'memori fotografi'. Saya seakan tersadar betapa polosnya saya untuk senantiasa terbuai dalam rindu berkepanjangan akibat detail memori yang rancu.



image source

Memori mengenai seseorang/sesuatu sejatinya akan sangat dipengaruhi oleh aneka konteks dan persepsi. Dan yang lebih menyedihkan, memori yang seharusnya lekat dengan imej objektif justru faktanya tidak bisa lepas dari yang namanya emosi. Hal ini akan menjadi lebih sensitif lagi apabila memori tersebut terkait dengan seseorang yang mempunyai dampak signifikan terhadap hidup kita, contohnya seperti memori mengenai seseorang yang kita cintai maupun memori akan seseorang yang kita benci. Pasalnya, memori tersebut mayoritas sudah terkontaminasi oleh hal-hal personal seperti perasaan dan sudut pandang kita akan orang tersebut. Masih ada pula konteks-konteks yang lainnya seperti keadaan mental kita di masa kini, keadaan mental kita di saat memori tersebut terekam maupun adanya informasi eksternal dari pihak ketiga.

Rindu jadi ibarat sebuah toksin yang dihasilkan dari kumpulan zat bias. 

Inilah yang membuat saya jadi kaku setiap mengekspresikan rindu. Kepada orang-orang yang saya kasihi, sebenarnya saya kerap merasa bersalah karena tidak mampu mentransmisikan rasa 'putus asa ingin bertemu' saya ini secara gamblang nan tulus. Pada akhirnya saya cuma bisa menyakiti perasaan mereka yang tak kalah halusnya dengan lembaran benang sutra. Ya, doakan saja semoga di kesempatan selanjutnya saya bisa jadi lebih baik lagi dalam hal mencinta dan dicintai.

Share:

Friday, February 3, 2017

#BedahLirik: Green Eyes (Coldplay)

Oke, sekali lagi harus saya akui kalau bicara masalah selera musik, saya tergolong yang secara konsisten selalu bergerak mundur (in terms of time) (pertanda orang yang susah move on wkwk). Kalau boleh jujur, saya jarang sekali tertarik dengan lagu-lagu generasi Z yang dipenuhi musik bergenre EDM dan sebangsanya. Dan bagi saya, kalau disuruh untuk memilih era kejayaan musik secara personal, saya tentu tanpa pikir panjang akan memilih era early 90s hingga early millenium. Entah mengapa, menurut saya, banyak lagu dari era tersebut yang mempunyai spirit yang muda namun tak bernada urakan alias sarat akan makna. Contohnya, di Indonesia ada Sheila On 7 hingga di Inggris terdapat Oasis dan Radiohead.

Hal ini tentu tidak sama dengan mayoritas lagu yang diproduksi dalam kurun waktu lima tahun terakhir, yang mana cenderung mengangkat lirik dengan rangkaian kata kotor hanya agar terlihat keren dan kekinian belaka. Sudah begitu, kebanyakan melodinya bagi saya terdengar palsu, karena pada umumnya mengandalkan tambahan bantuan efek suara yang berlapis-lapis jumlahnya. Alhasil, lagu-lagu tersebut tidak bisa abadi dan amat mudah terlupakan setelah muncul lagu-lagu baru berjenis sama di pasaran.

Di sinilah mengapa saya bertahan dengan musik-musik lawas. Sebab, dengan segala kesederhanaannya, mereka tetap mampu bertahan di hati para penikmatnya dan tak lekang digerus oleh derasnya sang arus perubahan.

image source

By the way
, saya selalu menggemari lagu-lagu alternatif — atau lebih spesifiknya — musik alternatif yang berbau britpop — tak terkecuali pada musik sekaliber Coldplay yang hanya dengan sekali mendengarkan lagu-lagunya saja saya akan langsung terbuai. Dan seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, karena saya suka lagu lawas, maka saya lebih cenderung menyukai lagu-lagu Coldplay keluaran lama, yakni yang dimulai dari EP "The Blue Room" hingga album "X&Y" saja. Di album "Viva La Vida" pun saya hanya menyukai dua buah lagu, yaitu '42' dan 'Lost!'.

Namun pada kesempatan kali ini, saya ingin fokus membahas sebuah lagu berbau serenade yang diciptakan Coldplay pada album "A Rush of Blood to the Head ". Lagu berdurasi 3 menit 43 detik itu pun diberi judul 'Green Eyes'. Hihi, barangkali bagi masyarakat Indonesia, sekalinya mendengar frasa bernada green eyes, yang langsung terbesit di pikiran mereka ialah sosok seseorang yang materialistis (mata ijo = mata duitan lol). Padahal bagi saya, ketika mendengar frasa green eyes, saya akan seketika teringat dengan sebuah lagu easy-listening yang ditelurkan oleh Coldplay pada tahun 2002 tersebut.

image source

Meski di sepanjang lagu Ia hanya mengandalkan permainan gitar akustik sederhana, namun justru di situlah daya tarik utamanya. Kekuatan lagu ini terletak pada barisan liriknya yang jujur nan tulus, yang mana merupakan alasan kenapa lagu ini dapat menggoreskan kesan cukup mendalam pada sanubari kecil saya.

Lucunya, lagu ini bukanlah lagu yang langsung saya gemari setelah mendengarkannya untuk pertama kalinya. Butuh waktu yang cukup lama bagi saya untuk menyadari bahwa lagu ini begitu hopelessly romantic and simultaneously beautiful in its own way. Saya pun tidak sendiri dalam menilai bahwa lagu ini pantas disebut sebagai salah satu lagu kebanggaan Coldplay. Faktanya, lagu ini masuk pada pada jajaran lagu terbaik Coldplay sepanjang masa versi para kritikus via Billboard.

Tak hanya itu, lagu ini pun sampai dinyanyikan ulang oleh musisi country asal Amerika, Aubrie Sellers, dengan model aransemen yang lebih smoky namun tetap menawan hati. 'Green Eyes' juga dipercaya untuk dilantunkan pada acara pernikahan pasangan desainer Katy dan Phil hingga menjadi lagu dansa pertama pada pernikahan mereka, lho (#UhhSoSweet!).

Jadi, se-romantis apa sih lirik dari lagu Coldplay yang satu ini? Yuk langsung saja kita simak,

Lirik

Honey you are a rock
Upon which I stand
And I come here to talk
I hope you understand

The green eyes, yeah the spotlight, shines upon you
And how could, anybody, deny you
I came here with a load
And it feels so much lighter now I met you
And honey you should know
That I could never go on without you
Green eyes

Honey you are the sea
Upon which I float
And I came here to talk
I think you should know

The green eyes, you're the one that I wanted to find
And anyone who tried to deny you, must be out of their mind
Because I came here with a load
And it feels so much lighter since I met you
Honey you should know
That I could never go on without you
Green eyes, green eyes
Oh oh oh oh [x4]

Honey you are a rock
Upon which I stand

Terjemahan Lirik (Rough Translation)

Sayangku, kau adalah batu
Yang menjadi tumpuanku untuk berdiri
Dan aku datang kemari untuk bicara
Semoga engkau mau mengerti

Mata yang hijau itu, ya sorot cahayanya, menyinarimu
Dan bagaimana bisa, ada seseorang, yang mampu menolak pesonamu
Aku datang kemari dengan setumpuk beban kehidupan
Dan kini beban itu terasa jauh lebih ringan, setelah ku bertemu denganmu
Dan sayangku, kau harus tahu
Bahwa aku tak akan bisa terus bertahan, tanpa keberadaanmu
Mata yang hijau itu

Sayangku, kau adalah lautan
Yang menjadi tempatku mengapung
Dan aku datang kemari untuk bicara
Kurasa engkau harus tahu (memahaminya)

Mata yang hijau itu, engkaulah yang telah kucari selama ini
Dan siapapun, yang mampu mencoba menolak pesonamu, pastilah tak waras adanya
Karena aku datang kemari dengan setumpuk beban kehidupan
Dan sayangku, kau harus tahu
Bahwa aku tak akan bisa terus bertahan, tanpa keberadaanmu
Mata yang hijau itu, mata yang hijau itu
Oh oh oh oh [x4]

Sayangku, kau adalah batu
Yang menjadi tumpuanku untuk berdiri

Makna lagu

Pada dasarnya, menurut yang dilansir oleh Rolling Stone, lagu ini ditulis sebagai bentuk tribute dari Coldplay pada Johnny Cash yang sebenarnya hendak berduet dengan Coldplay namun tak terlaksana karena beliau terlanjur menghadap pada Yang Kuasa. Selain itu, apabila ditinjau dari judulnya, lagu ini nampaknya juga ditujukan dan diciptakan untuk kekasih yang dicintai oleh sang penulis.

Yang membuat lagu ini berbeda dari serenade pada umumnya ialah rasa otentik liriknya — in other words, yakni kemurnian cinta yang ditumpahkan oleh sang penulis lagu di dalam lagunya. Sang penulis faktanya tanpa basa-basi menyatakan kekagumannya akan sang kekasih. Bukan pada kemolekan tubuhnya atau pun kecantikan paras wajahnya, melainkan hanya pada warna matanya yang hijau nan jernih. Ini menandakan bahwa sang penulis lagu benar-benar mencintai sang kekasih secara apa adanya, sebab kala memikirkan sang kekasih, Ia hanya terpikir akan kesejukan mata sang kekasih, bukan yang lainnya.

image source

Lagu ini pun saya rasa dibuat oleh sang penulis untuk meyakinkan kekasihnya agar Ia tak meragukan dirinya sendiri. Kemungkinannya sih, sang kekasih memang sedang dalam keadaan ingin putus karena merasa dirinya 'kurang pantas' untuk si penulis. Padahal sebaliknya, si penulis justru menganggap kekasihnya tersebut sebagai pijakan utama hidupnya agar Ia tetap bisa berdiri tegak dan tak tenggelam ke dasar palung penderitaan. Bahkan, sang penulis sampai dua kali menyebutkan kalimat 'and I come here to talk' , yang mana berarti sang penulis tak henti-hentinya berusaha guna membuat sang kekasih sadar akan keistimewaan yang dipunyainya.

Hal ini pun persis didukung oleh perspektif berikut ini: green eyes pada dasarnya merupakan jenis warna mata yang lebih langka ketimbang warna mata lainnya seperti coklat, biru, maupun hitam. Sehingga, dapat ditarik kesimpulan bahwa lagu ini memiliki referensi akan sosok kekasih sang penulis yang memiliki suatu keunikan yang tak didapat pada orang lain. Bahkan, penggalan lirik 'And anyone who tried to deny you, must be out of their mind' pun menegaskan bahwa menurut sang penulis, siapapun yang tidak menerima keberadaan kekasihnya karena kekasihnya 'berbeda' tentulah akan merugi dibuatnya. Oh iya, perspektif ini saya temukan pada kolom komentar halaman lirik lagu 'Green Eyes' pada situs Songfacts. Komentar tersebut ditulis oleh seseorang yang bernama  Elizabeth. I may not know her, but I can't agree more with her perspective. Nevertheless, it is such a wonderful interpretation, isn't it?

Selebihnya, menurut saya, lagu ini merupakan perwujudan rasa syukur dan rasa terima kasih sang penulis terhadap keberadaan kekasihnya di dunia ini. Pasalnya, setelah Ia bertemu dengan sang kekasih, segala beban hidup dan bayang-bayang permasalahan seakan runtuh dan perlahan memudar. Dan sebaliknya, apabila sang kekasih nantinya pergi meninggalkannya, besar kemungkinan Ia tak akan bisa meneruskan hidupnya sebaik seperti saat Ia masih bersamanya.

image source

Well, saya bukanlah seseorang yang memiliki manik mata berwarna hijau. Akan tetapi, saya dijamin akan tetap melting bila ada seseorang yang menyanyikan lagu ini untuk saya (uhuk, #kode keras).

Oleh karena itu, bukanlah suatu hal yang mengejutkan bahwa pada kesempatan konser tur "A Head Full of Dreams" di St. Louis, masih ada saja audiens yang meminta agar lagu ini dinyanyikan oleh Chris Martin. Akhirnya, Chris pun menyanyikan lagu ini setelah bertahun-tahun tak melantunkannya secara live di depan para fans. Mengetahui kenyataan indah sekaligus pahit tersebut, dalam hati saya hanya bisa berkata: Oh, I really wish I was there listening to that miracle :(

Alright, rampung sudah sesi #BedahLirik lagu 'Green Eyes' ala Coldplay yang memang mantap jiwa ini. Pokoknya, bagi kalian yang sedang merencanakan untuk rekonsiliasi bersama pacar kalian yang lagi ngambek atau hendak menembak gebetan, lagu ini akan menjadi pilihan yang paling tepat nan paling sempurna. Akhir kata, sampai jumpa di sesi #BedahLirik yang berikutnya!



*Ini audio version dari lagu ini di Youtube, folks. Selamat mendengarkan!



*Oh yea, and this is me trying to cover this song on Smule :) Feel free to check 'em out! ⟶ https://www.smule.com/recording/coldplay-green-eyes-instrumental/926014419_989665284

Referensi

http://www.azlyrics.com/c/coldplay.html
http://www.billboard.com/articles/columns/rock/7542025/coldplay-songs-top-hits
http://www.rollingstone.com/country/news/see-aubrie-sellers-cover-coldplays-green-eyes-w462051
http://styleblueprint.com/charlotte/everyday/carolina-wedding-riverwood-manor/
http://www.speakersincode.com/2016/07/concert-review-photos-coldplay-at.html
http://www.songfacts.com/detail.php?lyrics=3281
Share:

Tuesday, January 31, 2017

Newsflash: INTJs are most likely to end up suffering in hell!

(Kalau kalian penasaran dan ingin tahu penjelasan lengkap mengenai tes MBTI versi Wikipedia, kalian bisa klik di sini. Sedangkan untuk penjelasan lengkap mengenai INTJ versi Wikipedia, kalian bisa klik di sini)

Warning: this post is most likely wrapped as a joke so, come on! Don't take it too personally!

Setiap hari ― bukan, setiap detik ― saya selalu dibayangi dengan pertanyaan jahanam bernada 'apakah pada ujungnya saya hanya akan berakhir di neraka?'. Well, saya paham kalau pertanyaan macam ini adalah pertanyaan yang mainstream ― namun juga bisa dibilang esensial ―  karena Ia pasti dipertanyakan oleh setiap insan yang garis hidupnya berujung pada keabadian bertajuk 'kematian'. Jujur saja ya, sebagai seorang INTJ, saya tidak terlalu optimis akan hal ini. Melihat orang yang begitu percaya diri akan lolos dari neraka pun membuat saya merasa cringey sekaligus kagum (may the odds be ever in your favor, guys).


Alasan dari kepesimisan saya tadi bisa jadi karena kriteria untuk masuk neraka maupun masuk surga masih lumayan membingungkan bagi saya. Ya, saya tahu kalau mayoritas kriteria itu sudah disebut di berbagai kitab suci, ditafsirkan, dan disampaikan secara gamblang oleh para ahli serta pemuka agama. Namun secara personal, sebagai seseorang yang butuh definite kind of criteria, saya masih meragu apakah 'orang baik' akan selalu masuk surga dan 'orang jahat' akan selalu masuk neraka (who knows what God knows). However, it's not like I'm questioning every single validity and axiom ― toh pada akhirnya ya saya juga jelas ingin masuk surga. Cuma, saya kurang optimis, itu saja.

Lucunya, pagi ini otak saya sedang ingin 'berbelok'. Bila pada pernyataan-pernyataan sebelumnya saya terkesan tidak ingin memberi label, tapi nyatanya kok saya tiba-tiba terpikir bahwa INTJ adalah salah satu kandidat kepribadian yang paling potensial untuk masuk neraka (lol). Without further due, here are the reasons why:

1.    Terlalu Banyak Mempertanyakan Kebenaran

Lho? Bukannya selalu mempertanyakan kebenaran itu bagus? Ehem, tolong bedakan penggunaan kata 'selalu' dan 'terlalu', ya. Terlalu banyak mempertanyakan kebenaran itu yang bodoh, yang bisa jadi akan membuat siapa saja keblinger alias tersesat. 

image source
The thing is, INTJs are delicately prone to this issue. Bukannya sok religius atau bagaimana ya, tapi masih ingat kan dengan kisah Nabi Musa AS, kaum Bani Israil, dan sapi betina? Itu lho, yang tertera di Surah Al-Baqarah ayat 67-71? Nah, ya itu, terkadang karena terbawa oleh kutukan superiority complex, para INTJ bisa jadi se-terbelakang dan se-laknat itu. .

2.    Sering Dianggap Arogan

image source
Sudah bukan rahasia Ilahi lagi kalau seorang INTJ sering meremehkan sesuatu karena Ia acap kali merasa dirinya terlampau mampu (terutama INTJ tipe assertive). Alhasil, Ia jadi dianggap arogan oleh orang-orang sekitar. Ia pun jadi sering menuai banyak kebencian. Lol, terkesan dramatis dan menyeramkan, ya? Hihi, ya gitu deh, makanya dia kemungkinan besar berjodoh sama yang namanya neraka.  

3.    Kerap Kurang Peduli dengan Perasaan Orang Lain

image source
Ya, singkatnya, INTJ memang termasuk yang kurang peduli dengan para makhluk di sekitarnya, yang mana merupakan kelebihan sekaligus kelemahan dari INTJ. Kalaupun mereka berlagak peduli, mayoritas hanya sekedar untuk basa-basi atau karena mereka berprasangka buruk pada individu atau kelompok yang bersangkutan. Alhasil, banyak juga yang pada akhirnya jadi malas untuk peduli secara tulus pada si INTJ. Bahkan, mungkin diam-diam banyak juga yang mendoakan si INTJ ini agar segera mampus alias enyah dari dunia ini (eh buset).

4.    Munafik

image source
Nah ini, alasan yang paling ultima. Seperti yang kita semua ketahui, Tuhan begitu membenci golongan manusia yang munafik. And guess what? For INTJs, hypocrisy is like their true bff. Kenapa? Entahlah, biasanya mereka sering bilang 'tidak' meski faktanya mereka ingin bilang 'iya' (atau sebaliknya). Standar lah ya, alasannya sih untuk kepentingan image building. Namun terkadang, INTJ lupa kalau aktivitas image building tersebut adalah kunci utama yang akan mengantarkan mereka ke depan gerbang neraka.


Bagaimana? Sudah merasa terhibur akan rentetan kebodohan INTJ di atas? Ahaha, sekali lagi saya mau mengingatkan, semua ini cuma sepintas lawakan ala INTJ yang terkenal receh (pasalnya hidup ini memang hanyalah senda gurau belaka). Jadi, apabila ada (baca: banyak) poin-poin yang menurut kalian berbau idiot maupun kontradiktif, ya maklumi saja. Namanya juga guyonan.

Toh pada intinya, artikel ini saya buat untuk menunjukkan sisi manusiawi INTJ, yang bisa 'pintar' sekaligus 'bodoh' secara simultan— yang sama-sama punya kesempatan untuk masuk neraka persis seperti manusia maupun personalities yang lainnya.

So, as usual, don't get us wrong since we all have the same amount of chance to enter this uncomfortably fiery place called 'hell' — baik neraka yang asli maupun jenis 'neraka' yang lain.



PS: maaf kalau artikel ini terlalu random dan judulnya agak terkesan clickbait (hehe). Stay awesome, folks!
Share:

January 2017

Mencoba untuk menyatu
Setitik minyak di air kehidupanmu
Seberapa keras pun mencoba
Sukma-nya terlahir membatu

Akhir-akhir ini dibutakan cahaya
Lupa jati diri yang hina
Air mata mencatatkan
Harusnya hitam tak jadi kelabu

Siapa bilang kegelapan itu sementara?
Justru sinarmu-lah yang tidak abadi
Berputar ke sana kemari
Bermain dengan keraguan perasaan

Tapi, apa bisa?
Jantung hati diganti dengan dusta?
Apa bisa?
Segala janji disamakan dengan belati?

Share:

Monday, November 14, 2016

High Speed (Ceritanya Ini Tugas Kelas Grammar)


High Speed

                I was once dating a girl named Clara. She was a lovely young woman with all kinds of sweet dispositions. She had this bob-styled short black hair with undeniably cute fringe which made her face somewhat looked even more rounded and angelic. At first, I was not fully aware of her existence since she was that out-of-my-league kind of girl. To be perfectly honest, as a scholar, I was neither interested in hanging out with any girl nor boy since I had to sincerely focus with my study. However, Clara was either the first thing I remember in the morning or the very last thing I remember before going to bed. So, before I ended up murmuring her name constantly in the nearest mental hospital, I decided to ask her out.
                Things were going well, but there was one thing I could not stand about her: she was extremely unpunctual. As someone who always shows up early in every occasion, I could not bear the pain waiting for her who invariably showed up after at least 30 minutes late in every date we had. On the forth date, I even bought her a watch, despite the fact that she had already worn one on her left wrist. Well, I believed she was an intelligent lady and had guessed my intention about warning her not to be late again. Nonetheless, she happened to take it as an insult. We then fought horribly, and I said that she was a graceless creature who never appreciated time as much as I do. Two days later, I was about to attend a seminar on campus, and she texted me that she was going to be there as well. She wanted to make a deal with me. The deal was if she could manage to arrive on time to that seminar, then I had to take my words back. As I expected nothing bad would happen, I doubtlessly agreed. Yet, I expected that she would be late as usual. I had already portrayed in my head the scenario of her asking for apology with her goddess-like face, but she never showed up. It turned out that I was the one who never appreciated my time with her.
Share: